[Blog Tour & Giveaways] So, I Married the Anti-fan

hujoon

Halo semua!!

Siapa nih yang sudah pernah baca novel So, I Married the Anti-fan karya Kim Eun Jeong? Novel yang satu ini menceritakan kisah Hu Joon seorang artis yang sedang naik daun dan seorang anti-fannya bernama Geun Yong.  Novel ini juga bakalan dijadiin film lho, dan denger-denger Chanyeol Exo  bakalan ikut main di film ini. Nah, sambil nunggu filmnya yang masih akan digarap mending baca bukunya duluan yuk. 😀

Sekarang untuk ntuk menambah rasa penasaran kalian, Haru mau ngajak kalian pergi jalan-jalan nih, dengan mampir ke blog-blog teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membahas novel ini.

Tidak hanya membahas tentang novel ini, kakak-kakak blogger ini juga akan menyediakan hadiah untuk kalian semua. Seru banget, kan?

Eits, tunggu dulu! Tidak cukup dong kalau hanya itu saja. Bagi kamu yang rajin mengikuti Blog Tour So, I Married the Anti-fan dari awal sampai akhir, bakal ada hadiah seru yang menunggu kamu lho, apa saja yah? Nih hadiah-hadiahnya:

  1. 1 novel So, I Married the Anti-fan
  2. 1 buku Haru acak.

Lalu, caranya gimana? Gampang banget!

  1. Kamu harus mengikuti Blog Tour So, I Married the Anti-fan dari awal sampai akhir.
  2. Di setiap akhir postingan blog dari para blogger ini, akan menyediakan huruf-huruf yang merupakan bagian dari sebuah KATA yang harus kamu kumpulkan dan simpan baik-baik. Kata-kata itu berhubungan dengan So, I Married the Anti-fan.
  3. Kamu harus menyusun semua huruf-huruf tersebut ke dalam satu image, membentuk KATA hingga jelas apa yang ada di sana.
  4. Post image tersebut di wall fanpage Haru, sertakan kesan-kesan kamu terhadap Blog Tour So, I Married the Anti-fan.

Jangan sampai ketinggalan yaaaa!! Ini Haru kasih jadwal jalan-jalan kita ke blog kakak-kakak blogger yang kece-kece:

<jadwal blog tour So, I Married the Anti-fan>

20 Oktober

Dinar Arisandy

Twitter: @dinar_arisandy

Link review: https://dinararisandy.wordpress.com/2015/10/20/review-married-the-anti-fan/

Link GA: https://dinararisandy.wordpress.com/2015/10/20/blog-tour-giveaway-so-i-married-the-anti-fan/

22 Oktober

Ken Astri D.

Twitter: @orion____

Link review: https://justsavemywords.wordpress.com/2015/10/21/blog-tour-review-novel-so-i-married-the-anti-fan-by-kim-eun-jeong/

Link GA: https://justsavemywords.wordpress.com/2015/10/22/blog-tour-giveaway-so-i-married-the-anti-fan-by-kim-eun-jeong/

24 Oktober

Ria Destriana

Twitter: @riadestriana

Link review: https://girlwithwritingproblems.wordpress.com/2015/10/24/book-review-so-i-married-the-anti-fan/

Link GA: https://girlwithwritingproblems.wordpress.com/2015/10/24/blog-tour-giveaway-so-i-married-the-anti-fan/comment-page-1/#comment-258

26 Oktober

Biondy Alfian

Twitter: @biondyalfian

Link review: http://kireinasekai.blogspot.co.id/2015/10/blogtour-review-novel-so-i-married-anti.html

Link GA: http://kireinasekai.blogspot.co.id/2015/10/blogtour-giveaway-so-i-married-anti-fan.html

28 Oktober

Jenny Thalia Faurine

http://antibooks.wordpress.com

30 Oktober

Oktabri Erwanda

http://setopleskata.wordpress.com

1 November

Ariansyah

http://ariansyahabo.blogspot.com/

3 November

Hilmi Tsuraya Zulfania

http://librira.wordpress.com/

5 November

Fery Juni Ismarianto

http://feedmebook.blogspot.com

7 November

Fikriah Azhari

http://fikriah-bookaddict.blogspot.com/

9 November

Cut Lilis Rusnata

http://www.purplebookish.com/

11 November

Dini Y. Nurhasanah

http://dhynhanarun.blogspot.com

13 November

Wardahtuljannah

https://melukisbianglala.wordpress.com/

15 November

Dyah Muawiyah

http://chocotale.blogspot.com/

17 November

Ivana

http://sleepy-bookworm.blogspot.com/

19 November

Orinthia Lee

http://orinthiaandbooks.blogspot.com/

21 November

Fauziyyah Arimi

https://blogbukufaraziyya.wordpress.com

‘Surat Ini Diikutkan di Giveaway Dae-Ho’s Delivery Service PSA3’

Hi, Mu. Apa kau masih mengingat aku. Cukup berat untukku menulis surat ini. Tapi setidaknya aku ingin membagi kesedihanku yang kurasa tidak adil jika hanya aku sendiri yang merasa sakitnya luka yang kau tinggalkan dihatiku. Aku ingin kau tahu betapa kecewanya diriku atas sikapmu beberapa bulan yang lalu. Dengan mudahnya kau mengakhiri hubungan yang telah kita lalui selama 6 tahun ini. Bisa kau bayangkan betapa lamanya itu? Bisa kau bayangkan lamanya itu?

Apa kau tahu, bahkan seorang bayipun ia pasti sudah mengalami perkembangan yang begitu pesat dalam kehidupan sampai akhirnya ia berusia 6 tahun, bayi yang belum bisa melakukan segala hal dengan baik, namun secara perlahan ia kini telah bisa melakukan dengan baik bahkan tanpa bantuan orang lain. Tapi bagaimana dengan dirimu? Harusnya kau malu, kau kalah dengan bayi itu. Kau yang jauh lebih dewasa harusnya bisa berpikir lebih rasional lagi. kelakuanmu seperti anak kecil. Apa kau pikir kau pantas melakukan itu padaku? Lihatlah betapa pengecutnya dirimu.

Setidaknya, meskipun kau tetap menginginkan hubungan kita berakhir. Bisakah kita membicarakannya dengan baik? Jangan meninggalkan aku begitu saja. Tanpa penjelasan yang pasti. Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan padammu? Apa kau kini telah mencintai orang lain? Ketahuilah, aku bisa menerima semua kenyataan buruk itu, asalkan kau jujur padaku.

Tapi, baiklah. Kini semuanya tidak jadi masalah lagi bagiku. Karena kini aku sudah sadar betapa bodohnya aku selama ini yang telah menangisi kepergianmu, aku sangat menyesali akan semua air mata yang telah kukeluarkan itu. Lebih bodohnya lagi aku bahkan sempat mencaci maki diriku, menyalahi diri sendiri kenapa bisa bernasib sial seperti ini. Beruntung aku masih punya orang tua dan sahabat yang selalu mencintaiku dengan tulus. Membantuku bangkit dari keterpurukan.

Terima kasih untuk semuanya, karena kau telah mengajarkan aku banyak hal. Darimu aku belajar bagaimana cara mencintai orang dengan tulus, berusaha menjaga perasaanku, memberikan semua yang terbaik untuk orang kucintai, dan kini aku belajar bagaimana cara move on dari penjahat cinta sepertimu!

Semoga Tuhan memaafkan kesalahanmu yang telah menyakiti hati seorang wanita yang telah mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kau miliki. Aku telah mengikhlaskan kepergianmu, semoga kau bisa hidup bahagia dan menemukan cinta sejatimu

Cerita Mini (Paket A) – Ellunar Publisher

11167852_1181929418490021_7707168479655421747_n

Hey, Masa Kecilku! Wanita yang selama ini telah menghiasi hari-hariku. Semua terasa begitu indah saat aku sedang jatuh cinta padamu. This is Love. Aku jadi buta karenanya. Hasratnya yang membuatku lupa akan kenyataan bahwa Iman Kita Beda. Sepertinya kita harus mencoba mengerti. Mungkin kita tidak bisa bersatu sebagai sepasang kekasih. Tapi jangan biarkan rasa cinta itu menjadi selongsong Peluru yang mampu menembus kulit hingga meyeruak masuk kedalam tubuh, menyisahkan luka yang membekas. Percayalah, selama Dunia Belum Kiamat, kita masih ada waktu untuk menemukan cinta sejati kita.

#GiveAwayEllunar1st

Cerita Mini (Paket B) – Ellunar Publisher

11167852_1181929418490021_7707168479655421747_n

“Selamat Pagi, Cantik!” ingatkah kamu akan diriku yang selalu setia menunggu kedatanganmu di pintu gerbang sekolah. Gema Rasa cinta yang kupendam selama ini mulai meronta dikala kau berada disisiku, membuat hatiku bergetar hebat. Tapi kau tak pernah mau jujur dengan perasaanmu padaku. Bahkan teman kita sering cemburu melihat kedekatan kita, dengan candaan mereka yang selalu berkata “Nikah Saja Guys!” mampu membuatku tersipu malu. Lalu bagaimana dengan dirimu? Aku butuh kejujuran darimu tentang isi hatimu selama ini. Say You Love Me, Please! Jangan biarkan Lembeh dan Jawa menjadi saksi bisu cintaku padamu yang bertepuk sebelah tangan.

#GiveAwayEllunar1st

Airin

“Tri?” aku mendengar seseorang memanggil namaku, segera kubuka mata dan kulihat Mama, Papa dan beberapa teman kuliahku.

“Kenapa kalian semua disini?” tanyaku heran, melihat mereka semua berkumpul di kamarku. Tunggu! Ini bukan kamarku, “Dimana aku?”

“Kamu ngak dasarkan diri, Nak. Sejak kemarin kamu koma. Mama, Papa sama teman kamu khawatir semua.” Jelas Papa sembari membelai lembut rambutku.

“Koma? Bagaimana bisa? Aku kan kemarin… Airin!” aku terlonjak kaget ketika mengingat sesuatu, iya Airin. Bagaimana dengannya sekarang? Batinku. Segera kuberanjak dari tempat tidur dan melepas semua selang yang tertempel ditubuhku.

“Kamu mau kemana, Nak?”

“Tri!”

Aku tetap saja pergi karena yang terpenting sekarang adalah Airin. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Ini adalah rumah sakit dimana Airin juga dirawat kemarin. Airin.. batinku lirih memanggil namanya.

“Dimas?” aku sedikit ragu dengan apa yang telah ditangkap oleh mataku saat ini, aku melihat sosok Dimas berada tak jauh dihadapanku. Ia baru saja keluar dari mobil ambulance, kini bersama Ibu Airin dan beberapa suster mereka mendorong sebuah ranjang yang diatas terbaring sosok Airin yang tak sadarkan diri.

Mereka kini berada tak jauh dari tempatku berdiri, tubuhku kaku tak mampu bergerak dan airmataku tak hentinya mengalir, tidak… tidak mungkin… menyadari kepergian mereka, akupun segera berlari menyusul dan berhenti tepat di depan pintu yang bertuliskan ICU di depannya.

“Ib… eum, Tante. Airin kenapa? Bukannya kemarin Airin?” hampir saja aku memanggilnya dengan sebutan Ibu.

“Airin. Dia tiba-tiba saja pingsan lagi saat kami baru saja mengunjungi makam Ayahnya tadi.” Jawabnya. Iya aku ingat itu, tapi aku rasa bukan itu jawaban yang kubutuhkan sekarang.

Aku memeluk Ibu Airin ketika melihatnya menangis terseduh-seduh, berharap itu bisa membantu untuk sedikit menenangkan beliau.

Kini kualihkan pandanganku ke Dimas yang tengah berdiri di samping kami. Tatapannya kosong menuju pintu ruangan itu, berharap seseorang keluar dari sana dan membawa berita yang membahagiakan.

Aku melepaskan pelukanku dan membimbing Ibu Airin untuk duduk dikursi tunggu di koridor, dan berjalan mendekati Dimas.

“Ini memang aneh, aku sempat curiga bagaimana bisa dia sadar begitu saja ketika Dokter telah yakin kalau sudah tidak ada harapan lagi. tapi…” seolah tahu apa yang ada dipikiranku Dimas mulai menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, “aku sangat bahagia ketika dia kembali sadar dan tersenyum. Setidaknya aku tidak membunuh orang seumur hidupku. Aku benar-benar menyesal.” Dimas terduduk lemas di lantai, dan menelungkupkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang tengah mengurai air mata.

“Tri!” baru saja aku ingin menenangkan Dimas atas rasa bersalahnya itu, aku melihat Mama, Papa dan yang lain berjalan mendekati kami. Langkahku terhenti saat ingin menghampiri mereka karena pintu yang sedari tadi kami tunggui itu akhirnya terbuka juga. Aku menatap penuh harap kearah Dokter yang baru saja keluar dari sana, tidak, aku benci raut wajahnya itu…

Ibu Airin dan Dimas segera berdiri, lalu kami berjalan menghampirinya. Hanya gelengan kepala dyang Dokter itu lakukan tapi kenapa rasanya dunia ini seakan runtuh karenanya. Ibu Airin jatuh pingsan, beruntung Dimas dengan sigap menangkap tubuh beliau dan membawanya ke kursi tunggu. Mama dan temanku berusaha menenangkannya. Papa dan Dimas, berusaha meminta keterangan yang jelas dari sang Dokter. Sedangkan aku, memberanikan diri berjalan masuk ke ruang ICU.

Melihat wajah pucat Airin, begitu menyakitkanku. Seolah ribuan pisau menghujam tubuhku. Baru saja kemarin, tidak maksudku bukankah tadi pagi aku juga melihat wajah itu di cermin saat aku berkaca tadi pagi di kamar Airin. Di Kamar Airin? Ya, karena sejak kemarin tepatnya saat aku berkunjung melihat kondisi Airin yang sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Aku tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri dan ketika aku terbangun, aku bukanlah Tri Indah Permatasari -diriku yang sebenarnya- melainkan seorang Airin Sukma.

“Terima kasih.” Aku terkejut ketika mendapati sosok Airin berdiri tepat di belakangku.

“Airin?” panggilku seolah tak percaya apa yang kulihat ini, jika tubuhnya terbaring di atas ranjang, maka yang ada dihadapanku sekarang adalah arwahnya.

“Meski hanya sebentar, tapi setidaknya aku bisa mengatakannya pada Ibu, bahwa aku sangat mencintainya dan aku juga bisa pergi ke makam Ayah.” Airin tersenyum padaku.

“Jika aku ditubuhmu? Bagaimana aku bisa ada berada dirumah sakit dan koma?” aku melontarkan pertanyaan yang sangat mengangguku sejak aku sadar tadi.

“Maaf, aku menyusahkan mu, Ri. Aku tidak bisa masuk ketubuhmu, karena aku memang sudah seharusnya mati. Karena itu aku lebih memilih tetap bersama Ibuku, melihatnya untuk terakhir kalinya.” Tunggu, apa aku tidak salah dengar tetap bersama ibuku itu berarti?

“Benar, Ri. Aku selalu ada didekat kalian, selama kau ada ditubuhku kemarin.” Jelas Airin, seolah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Mungkinkah?”

“Iya. Aku mencintaimu, Ibu. Aku ingin ke makam Ayah. Itu bukanlah kata yang terlontar begitu saja dari bibirmu. Aku yang menyuruhmu mengatakannya.” Iapun terdiam sejenak. “Bisa membantuku lagi? Dimas, kurasa dia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Dia tidak sepenuhnya bersalah. Aku tidak ingin dia terus menyalahkan dirinya.”

Aku menganguk, dan seketika Airin mulai menghilang dari tatapanku.