Airin

“Tri?” aku mendengar seseorang memanggil namaku, segera kubuka mata dan kulihat Mama, Papa dan beberapa teman kuliahku.

“Kenapa kalian semua disini?” tanyaku heran, melihat mereka semua berkumpul di kamarku. Tunggu! Ini bukan kamarku, “Dimana aku?”

“Kamu ngak dasarkan diri, Nak. Sejak kemarin kamu koma. Mama, Papa sama teman kamu khawatir semua.” Jelas Papa sembari membelai lembut rambutku.

“Koma? Bagaimana bisa? Aku kan kemarin… Airin!” aku terlonjak kaget ketika mengingat sesuatu, iya Airin. Bagaimana dengannya sekarang? Batinku. Segera kuberanjak dari tempat tidur dan melepas semua selang yang tertempel ditubuhku.

“Kamu mau kemana, Nak?”

“Tri!”

Aku tetap saja pergi karena yang terpenting sekarang adalah Airin. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Ini adalah rumah sakit dimana Airin juga dirawat kemarin. Airin.. batinku lirih memanggil namanya.

“Dimas?” aku sedikit ragu dengan apa yang telah ditangkap oleh mataku saat ini, aku melihat sosok Dimas berada tak jauh dihadapanku. Ia baru saja keluar dari mobil ambulance, kini bersama Ibu Airin dan beberapa suster mereka mendorong sebuah ranjang yang diatas terbaring sosok Airin yang tak sadarkan diri.

Mereka kini berada tak jauh dari tempatku berdiri, tubuhku kaku tak mampu bergerak dan airmataku tak hentinya mengalir, tidak… tidak mungkin… menyadari kepergian mereka, akupun segera berlari menyusul dan berhenti tepat di depan pintu yang bertuliskan ICU di depannya.

“Ib… eum, Tante. Airin kenapa? Bukannya kemarin Airin?” hampir saja aku memanggilnya dengan sebutan Ibu.

“Airin. Dia tiba-tiba saja pingsan lagi saat kami baru saja mengunjungi makam Ayahnya tadi.” Jawabnya. Iya aku ingat itu, tapi aku rasa bukan itu jawaban yang kubutuhkan sekarang.

Aku memeluk Ibu Airin ketika melihatnya menangis terseduh-seduh, berharap itu bisa membantu untuk sedikit menenangkan beliau.

Kini kualihkan pandanganku ke Dimas yang tengah berdiri di samping kami. Tatapannya kosong menuju pintu ruangan itu, berharap seseorang keluar dari sana dan membawa berita yang membahagiakan.

Aku melepaskan pelukanku dan membimbing Ibu Airin untuk duduk dikursi tunggu di koridor, dan berjalan mendekati Dimas.

“Ini memang aneh, aku sempat curiga bagaimana bisa dia sadar begitu saja ketika Dokter telah yakin kalau sudah tidak ada harapan lagi. tapi…” seolah tahu apa yang ada dipikiranku Dimas mulai menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, “aku sangat bahagia ketika dia kembali sadar dan tersenyum. Setidaknya aku tidak membunuh orang seumur hidupku. Aku benar-benar menyesal.” Dimas terduduk lemas di lantai, dan menelungkupkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang tengah mengurai air mata.

“Tri!” baru saja aku ingin menenangkan Dimas atas rasa bersalahnya itu, aku melihat Mama, Papa dan yang lain berjalan mendekati kami. Langkahku terhenti saat ingin menghampiri mereka karena pintu yang sedari tadi kami tunggui itu akhirnya terbuka juga. Aku menatap penuh harap kearah Dokter yang baru saja keluar dari sana, tidak, aku benci raut wajahnya itu…

Ibu Airin dan Dimas segera berdiri, lalu kami berjalan menghampirinya. Hanya gelengan kepala dyang Dokter itu lakukan tapi kenapa rasanya dunia ini seakan runtuh karenanya. Ibu Airin jatuh pingsan, beruntung Dimas dengan sigap menangkap tubuh beliau dan membawanya ke kursi tunggu. Mama dan temanku berusaha menenangkannya. Papa dan Dimas, berusaha meminta keterangan yang jelas dari sang Dokter. Sedangkan aku, memberanikan diri berjalan masuk ke ruang ICU.

Melihat wajah pucat Airin, begitu menyakitkanku. Seolah ribuan pisau menghujam tubuhku. Baru saja kemarin, tidak maksudku bukankah tadi pagi aku juga melihat wajah itu di cermin saat aku berkaca tadi pagi di kamar Airin. Di Kamar Airin? Ya, karena sejak kemarin tepatnya saat aku berkunjung melihat kondisi Airin yang sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Aku tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri dan ketika aku terbangun, aku bukanlah Tri Indah Permatasari -diriku yang sebenarnya- melainkan seorang Airin Sukma.

“Terima kasih.” Aku terkejut ketika mendapati sosok Airin berdiri tepat di belakangku.

“Airin?” panggilku seolah tak percaya apa yang kulihat ini, jika tubuhnya terbaring di atas ranjang, maka yang ada dihadapanku sekarang adalah arwahnya.

“Meski hanya sebentar, tapi setidaknya aku bisa mengatakannya pada Ibu, bahwa aku sangat mencintainya dan aku juga bisa pergi ke makam Ayah.” Airin tersenyum padaku.

“Jika aku ditubuhmu? Bagaimana aku bisa ada berada dirumah sakit dan koma?” aku melontarkan pertanyaan yang sangat mengangguku sejak aku sadar tadi.

“Maaf, aku menyusahkan mu, Ri. Aku tidak bisa masuk ketubuhmu, karena aku memang sudah seharusnya mati. Karena itu aku lebih memilih tetap bersama Ibuku, melihatnya untuk terakhir kalinya.” Tunggu, apa aku tidak salah dengar tetap bersama ibuku itu berarti?

“Benar, Ri. Aku selalu ada didekat kalian, selama kau ada ditubuhku kemarin.” Jelas Airin, seolah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Mungkinkah?”

“Iya. Aku mencintaimu, Ibu. Aku ingin ke makam Ayah. Itu bukanlah kata yang terlontar begitu saja dari bibirmu. Aku yang menyuruhmu mengatakannya.” Iapun terdiam sejenak. “Bisa membantuku lagi? Dimas, kurasa dia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Dia tidak sepenuhnya bersalah. Aku tidak ingin dia terus menyalahkan dirinya.”

Aku menganguk, dan seketika Airin mulai menghilang dari tatapanku.

Iklan